N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KRI Raden Eddy Martadinata 331

PKR 10514, Kapal frigat pertama produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Selasa, 22 Agustus 2017

Indonesia Membutuhkan 33 Drone MALE

Untuk Tingkatkan Keamanan NegaraDrone MALE Anka

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengembangkan drone berjenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) untuk kepentingan pertahanan. Penggunaan drone ini dinilai lebih efisien dan ekonomis untuk mengawasi ruang udara Indonesia yang luas.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu Widodo Pandoe mengatakan setidaknya dibutuhkan 33 unit drone MALE untuk meningkatkan keamanan negara. Terutama di daerah-daerah perbatasan karena wilayah Indonesia sangat luas.

"Kajian awal BPPT, suatu pangkalan memerlukan tiga unit drone, satu unit yang operasional, satu unit standby, serta satu unit lainnya untuk perawatan. Tiga drone itu dikalikan sebelas pangkalan yang dibutuhkan untuk mengamankan wilayah Indonesia. Jadi jumlahnya 33 unit," ujar Wahyu di Gedung BPPT, Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Senin 21 Agustus 2017.

Wahyu mengatakan drone MALE sangat eknomis dan minimal risiko menimbulkan korban jiwa karena mampu mengudara hingga ketinggian di atas 10 ribu kaki tanpa awak. Drone MALE juga memiliki ketahanan operasi yang panjang (long endurance) hingga 24 jam sekali terbang.

"Drone MALE nantinya sangat bermanfaat untuk meningkatkan keamanan negara, termasuk wilayah perbatasan, wilayah darat, laut, maupun udara yang rawan terjadi gangguan kejahatan seperti pencurian sumber daya laut, penyelundupan narkoba, dan kejahatan transnasional lainnya," terang Wahyu.

Saat ini BPPT tengah mengembangkan teknologi drone MALE buatan dalam negeri. BPPT menggandeng sejumlah pihak, di antaranya Kementerian Pertahanan, TNI AU, ITB, PT Dirgantara Indonesia, serta PT LEN Persero dalam sebuah perjanjian kerja sama konsorsium untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Diharapkan, drone MALE buatan Indonesia akan diujicoba pada tahun 2019, serta masuk tahap sertifikasi pada tahun 2020-2022. Sehingga drone MALE made in Indonesia ini sudah bisa diproduksi pada 2022 mendatang.
 

  Metrotv  

Senin, 21 Agustus 2017

Indonesia Kembangkan Drone MALE

Untuk Pantau PerbatasanUAV Sriti

Indonesia mengembangkan pesawat tanpa awak (drone) Medium Altitude Long Endurance (MALE) untuk mengawasi kawasan perbatasan. Pengembangan telah dimulai tahun 2015 dan ditargetkan bisa memasuki tahap produksi pada 2022.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu Pandoe mengungkapkan, pengembangan drone bertujuan mengurangi ketergantungan alat pengawasan pada produk luar negeri. “Selama ini ketergantungan kita tinggi,” katanya.

Pengembangan akan dilakukan lewat kerjasama antara BPPT, Kementerian Pertahanan, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, dan Institut Teknologi Bandung. Total biaya proyek drone tersebut mencapai Rp 90 miliar, berasal dari BPPT dan Kemenhan.

Dibanding dengan drone Alap-alap dan Sriti yang telah dikembangkan sebelumnya, MALE punya kelebihan. “Ini bisa terbang 24 jam hingga ketinggian lebih dari 15.000 kaki,” kata Bona P Fitrikananda, Manager Program Pesawat Terbang Tanpa Awak di PT Dirgantara Indonesia.

MALE bakal dirancang untuk mampu membawa muatan hingga 300 kg. sejumlah sensor dan perangkat yang bakal dipasang nantinya adalah kamera, sensor inframerah, Synthetic Aperture Radar (SAR), signal dan electronic intelligent.

Kita harapkan pemantauan kawasan perbatasan nanti bisa tercover. Dengan inferamerah kita bisa melihat apa yang terjadi di bawah. Katakanlah ada oknum yang bersembunyi, nanti bisa terlihat” ujar Bona dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (21/8/2017).

Ditargetkan, nantinya akan ada 11 pangkalan untuk mengontrol drone MALE, tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bona mengatakan, saat tiba fase produksi nanti, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 75-80 persen.
 

  Kompas  

Sabtu, 19 Agustus 2017

Mencapai Kemandirian Alutsista 2019

Sejumlah Target Industri Pertahanan Harus DiselesaikanKunker Kemhan di Bandung

PT Pindad sebagai produsen peralatan pertahanan dan keamanan, saat ini tengah menyelesaikan produksi pesanan Kemhan medium tank yang rencananya akan ditampilkan dalam parade HUT TNI tanggal 5 Oktober 2017. Demikian diungkapkan Sekjen Kemhan Dr. Widodo saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke sejumlah industri pertahanan di Bandung, Selasa (15/8).

Dalam rangkaian kunjungannya ke PT Pindad, Sekjen yang didampingi Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose dan pejabat eselon Kemhan mengungkapkan bahwa ada sejumlah target yang harus diselesaikan PT Pindad di masa yang akan datang terkait progres pencapaian PT Pindad dalam produksi medium tank yang bekerjasama dengan NFSS Turki. Untuk produksi medium tank akan disesuaikan dengan kebutuhan TNI di daerah operasi.

Pada tahun 2019, lanjut Sekjen, diharapkan Indonesia sudah mandiri di bidang industri pertahanan. Untuk itu Kemhan mendorong PT Pindad untuk mass production khususnya dalam mendukung alutsista Kemhan/TNI serta sejumlah kementerian di Indonesia bahkan dunia. Kemandirian itu dapat dimulai dari membuat bahannya, produksi, packing dan pemasaran sehingga diharapkan pada tahun 2019 target Kemhan/TNI dapat tercapai.

Sedangkan untuk target-target lainnya, PT Pindad mendapat tantangan untuk mengembangkan inovasi sejumlah produk seperti tank amphibi, roket dan senapan under water untuk pasukan khusus bawah air. Sekjen Kemhan berharap kedepan PT Pindad dapat menguasai pasar nasional bahkan dunia, untuk itu core business PT Pindad harus lebih ditingkatkan.

Setelah melakukan kunjungan ke PT Pindad, pada hari yang sama rombongan Sekjen Kemhan melanjutkan kunker ke PT CMI yang masih berlokasi di Bandung. Dalam kunjungannya ke PT CMI (Compact Microwave Indonesia), Sekjen Kemhan beserta rombongan diterima oleh Direktur Utama PT CMI Ir. Rahardjo Pratihno beserta jajaran direksi.

150817 Kunker Sekjen ke PT CMIDalam kunjungan ke industri pertahanan korporasi berbasis teknologi, Sekjen berharap kepada PT CMI sebagai perusahaan industri pertahanan yang bergerak dibidang alat komunikasi seperti radar, manpack, satellite ground station, modul radar pertahanan, sistem kontrol dan pengendalian untuk puskodal, untuk tidak bergantung ke luar negeri. Untuk itu kita harus mendorong agar PT CMI dapat menguasai pasar nasional dan dunia.

Lebih lanjut Sekjen mengatakan, kita patut berbangga bahwa selama ini PT CMI menggunakan komponen, SDM, tenaga ahli dan permodalan yang berasal dari dalam negeri. Sebagai perusahaan peralatan radio dengan kompetensi di bidang arus lemah dan tinggi (microwave), PT CMI merupakan perusahaan karya anak bangsa yang pemegang saham seluruhnya adalah Warga Negara Indonesia.

Oleh karenanya sebagai bangsa Indonesia kita harus mendukung sepenuhnya PT CMI agar tercapai kemandirian alutsista sesuai dengan semangat Presiden RI dan Menhan RI dalam kemandirian alutsista tahun 2019.

Sebelumnya pada hari yang sama di kesempatan pertama, Sekjen beserta rombongan berkesempatan mengunjungi industri pertahanan Bhimasena yaitu perusahaan di bidang Research and Development yang memproduksi kendaraan-kendaraan militer seperti EOD vehicle, CBRN vehicle, decontamination vehicle, kitchen vehicle, uav backpack dan uac optera. (ERA/SPD)
 

  Kemhan  

Jumat, 18 Agustus 2017

[Video] N219

Mulai pembangunan hingga terbang perdana Pesawat hasil karya anak bangsa, kerjasama LAPAN dan PT DI telah menyelesaikan uji terbang perdana pesawat multifungsi N219. Pada video dibawah nampak pembuatan pesawat dari pemotongan baja, tes mesin hingga terbang perdana di Bandung. Video diposkan Inoel Arifin.


  Youtube  

Kamis, 17 Agustus 2017

Pemerintah Targetkan Ekspor Alutsista pada 2019

✈ Medium tank hasil kerjasama FNSS dan Pindad [FNSS]

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan) menargetkan ekspor alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada 2019. Untuk itu, PT Pindad sebagai BUMN yang memproduksi alutsista agar mampu menghasilkan inovasi produk yang dibutuhkan oleh Indonesia maupun negara lain.

Sekertaris Jenderal Kemenhan RI, Widodo menerangkan selama ini produk Pindad sudah digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahkan sudah mulai mengekspor alutsista ke manca negara.

"Pertama target kita memenuhi kebutuhan TNI dan kementerian kemudian pesanan dari negara-negara di Asia Tenggara bahkan negara lain di dunia," katanya kepada wartawan di kantor Pindad, Bandung, Selasa (15/8/2017).

Widodo menilai banyaknya pesanan produksi buatan Pindad oleh manca negara merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi BUMN yang belokasi di Bandung tersebut.

"Ini tantangan bagi Pindad untuk lebih mandiri mulai dari pembuatan bahan, pengemasan dan pemasaran produk alutsista ke manca negara," ungkapnya.

Widodo mengaku PT Pindad sekarang tengah menggarap pesanan dari Uni Emirat Arab berupa 100 juta amunisi kaliber kecil. Namun, belum bisa terpenuhi karena Pindad harus membeli beberapa mesin produksi lagi agar bisa memenuhi pesanan tersebut.

"PT Pindad harus membeli alat produksi lagi agar bisa memenuhi pesanan UEA," tegasnya.

Ada beberapa pesanan alutsista lain seperti medium tank yang telah dipesan oleh beberapa negara terutama dari negara Timur Tengah.

Perakitan medium tank ini merupakan kerja sama antara PT Pindad dan Turki. Direncanakan pertengahan September 2017 Prototypenya akan didatangkan ke Indonesia dan diharapkan bisa ditampilkan pada 5 Oktober bertepatan dengan hari jadi TNI.

"Ini tantangan dari PT Pindad terutama produk buatan Indonesia ini harus dicintai oleh bangsa sendiri, sehingga nanti kalau sudah nyaman jika diekspor keluar juga akan lebih mudah," tuturnya.

Selain itu, Dikatakan Widodo produksi medium tank ini diperuntukan bagi TNI yang disesuaikan dengan kontur wilayah Indonesia. Hingga kini Kemenhan masih mengkoordinasikan kebutuhan medium tank untuk TNI.

"Hingga saat ini kebutuhan medium tank untuk TNI masih kita diskusikan," pungkasnya.

  Warta Ekonomi  

Keunggulan Pesawat N219 Buatan PT Dirgantara Indonesia

Terbang selama kurang lebih 25 menit https://2.bp.blogspot.com/-GHbLFoPLfwo/WZSvvDI-6PI/AAAAAAAAKsA/QO-zpEjDKQQvKg_nulG9WSTKo0MHOstwQCLcBGAs/s1600/20838876_N219%2BMaiden%2BFlight.%2BCredit%2Bto%2BRizky%2BAditya.jpgTake off perdana N219 [Rizky AdityaI]

Pesawat N219 karya anak bangsa menjalani uji coba terbang (flight test) perdana, Rabu (16/8). Pesawat ini sukses uji terbang pertama kali dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung selama kurang lebih 25 menit.

Pesawat ini dibuat PT Dirgantara Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Direktur Utama PTDI Budi Santoso mengatakan pesawat ini memiliki kelebihan sebagai jenis pesawat ringan yang cocok dioperasikan di daerah perintis. "Jadi pesawat ini direncanakan sebagai pesawat perintis. Di Papua, di Kalimantan butuh banyak seperti ini. Pesawat ini memang akan kita pasarkan di daerah yang terpencil," kata Budi usai first flight Pesawat N219 di Hanggar Fix Wings PTDI, Rabu (16/8).

Menurutnya pesawat ini didesain untuk 19 penumpang. Dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Ide dan desain dari pesawat dikembangkan oleh PTDI dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan LAPAN.

https://3.bp.blogspot.com/-IcHIPeYURtY/WZSv35FCXeI/AAAAAAAAKsM/VdMGigUz9Pc8zP_iIJevkeNq8boeXZC3gCLcBGAs/s1600/desain-pesawat-N219-e1502895010779.jpgPurwarupa pesawat pertama N 219 ditenagai sepasang engine pratt and whitney PT6A-52 dengan kemampuan 850 shp dan daya jelajahnya 1580 NM kecepatan maksimum 213 knots.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menambahkan kelebihan pesawat N219 ialah memudahkan beroperasi di daerah perbukitan. Serta yang memiliki landasan udara pendek. "Ini ditargetkan untuk landasan pendek yang kontur buminya menyulitkan. Dia bisa bermanuver dengan kecepatan rendah sehingga di daerah perbukitan bisa digunakan dengan baik," ujar Thomas.

Ia pun berharap ke depannya pesawat N219 dapat digunakan secara massal untuk membantu transportasi masyarakat khususnya di daerah pedalaman. "Harapan utama kami, pesawat N219 dapat terus digunakan dan menjadi salah satu ekonomi sebagai alat transportasi untuk konektivitas di daerah-daerah terpencil. Kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi pesawat kedepanny sehingga bangsa Indonesia dapat terus dengan bangga menggunakan hasil karya bangsanya sendiri," tuturnya.

 Berikut delapan keunggulan lainnya pesawat N219 : 
https://4.bp.blogspot.com/-o0cDZRaZfzY/WZSvx-atMCI/AAAAAAAAKsI/r89NJ1Cje0Edt7Af0egVNGXMICIydawvgCLcBGAs/s1600/N219%2BMaiden%2BFlight.jpg1. Purwarupa pesawat pertama N219 didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis, sehingga memiliki kemampuan short take off dan landing mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground support unit.

2. Menggunakan teknologi yang sudah banyak ditemui di pasaran atau menggunakan, common technology sehingga harga pesawat bisa lebih murah dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah.

3. Menggunakan teknologi avionik yang lebih modern dan banyak digunakan di pasaran yakni Garmin G-1000 dengan Flight Management System yang d dalamnya sudah terdapat Global positioning System (GPS). sistem Autopilot dan Terrain Awareness and Warning System.

4. Memiliki kabin terluas di kelasnya dan serbaguna untuk berbagai macam kebutuhan seperti pengangkut barang, evakuasi medis pengangkut penumpang bahkan pengangkut pasukan.

https://1.bp.blogspot.com/-_rl-Q6-fMj0/WZSvv39wpTI/AAAAAAAAKsE/Zc7eCjav06s6L7lVbMVDih0kK471u7ifQCLcBGAs/s1600/d7daef28-N219.jpg5. Multihop Capability Fuel Tank teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

6. Purwarupa pesawat pertama N219 memiliki kecepatan (speed) maksimum mencapai 210 knot, dan kecepatan terendah mencapai 59 knot, artinya kecepatan cukup rendah namun pesawat masih bisa terkontrol, ini sangat penting terutama saat memasuki wilayah yang bertebing-tebing, di antara pegunungan-pegunungan yang membutuhkan pesawat dengan kemampuan manuver dan kecepatan rendah.

7. Purwarupa pesawat pertama N219 dilengkapi dengan Terrain Awareness and Warning System, seperangkat alat yang bisa mendeteksi bahwa pesawat ini sedang menuju kepada atau mendekati wilayah perbukitan, sistem pesawat akan memberikan tanda, visualisasi secara dimensi sehingga pilot secara langsung tahu kondisi perbukitan yang akan dilaluinya.

8. Purwarupa pesawat pertama N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear tetap atau tidak dapat dimasukan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan berbatu serta akan mengurangi biaya pemeliharaan.

  Republika  

[Video] Uji Terbang Perdana N219

✈ Karya Anak Bangsa Pesawat rancangan anak bangsa ini N219 take off dari Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (16/8/2017) dari pukul 09.00-10.00. Penerbangan perdana N219 ini berlangsung sukses.

 Berikut video liputan CNN dari Youtube : 


  CNN  

Rabu, 16 Agustus 2017

PT DI Bersiap Garap N245 dengan Lapan

✈ Setelah N219 ✈ Maket N245 [PTDI]

PT Dirgantara Indonesia dan Lapan bersiap mengembangkan proyek pesawat N245 yang telah dicanangkan pemerintah sebagai program tambahan proyek strategis nasional pada Perpres 58 Tahun 2017. Hal itu dilakukan setelah PT DI melakukan uji terbang pertama pesawat N219.

Saya harapkan dengan ‘first-flight’ N219 ini pemerintah akan membantu kita untuk program N245. Lapan juga serius membantu kita. Kita akan bekerjasama mencari sebagian biaya pengembangannya dari pemerintah, sbagian lagi dari partner kerja sama,” kata Direktur Utama PT DI Budi Santoso di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 16 Agustus 2017.

Budi mengatakan, proyek pesawat N245 ini sudah disiapkan PT DI sebagai pengembangan dari pesawat N235. “Kita memanfaatkan yang mungin bisa kita pakai di pesawat N235. Mungkin 80 persen akan sama, hanya 20 persen sampai 30 persen beda, dan kita bisa mendapatkan pesawat komersial,” kata dia.

Menurut Budi, pesawat N245 itu nantinya disiapkan murni sebagai pesawat komersial untuk mengangkut penumpang. “Kalau N235 itu lebih baik untuk pesawat militer dan spesial kargo. Kalau untuk pesawat komersial bisa N245, dengan terget (bisa beroperasi pada) runway di bawah 800 meter, dan masih bisa landing di ‘unprepare-land’ di landasan rumput dan lain-lain,” kata dia.

Budi mengatakan, pesawat N245 dirancang sebagai pesawat berbaling-baling untuk mengangkut penumpang dan berada di bawah versi pesawat penumpang ATR72. “Kita akan masuk ke daerah 50 penumpang. Teman0-teman mendisain kira-kira untuk 54 penumpang. Karena saya senang bolak-balik angka, saya jadikan saja 45 (N245),” kata dia.

PT DI saat ini akan memulai pembuatan rancangan disain pesawat itu. “Baru disain. Kita akan mulai di wind tunnel,” kata Budi.

Budi mengatakan, sejumlah perusahaan industri pesawat di luar negeri sudah menyatakan ketertarikannya untuk bekerja sama membuat pesawat N245. Tapi dia masih enggan merincinya. “Kira-kira 6 bulan lagi saya cerita. Saya masih cari partner yang tertarik. Ada yang sudah tertarik tapi belum hitung-hitungan uangnya. Kalau yang tertarik banyak,” kata dia.

Kepala Lapan Thomas Djamaludin membenarkan lembaganya tengah bekerja sama dengan PT DI untuk proyek pengembangan pesawat N245. “Setelah ini, kita mengupayakan pengembangan pesawat jenis berikutnya, N245. Spesifikasinya untuk kelas menengah dengan muatan sekitar 50 penumpang,” kata dia di Bandung.

  Tempo  

N219 Resmi Terbang Perdana

✈ Dengan Pilot Esther Gayatri Saleh ✈ Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]

Hari ini, Rabu (16/8/2017), menjadi hari bersejarah bagi Indonesia. Sekitar pukul 09.10 WIB, pesawat N219 hasil kerja sama LAPAN dan PTDI sukses melakukan uji terbang perdana.

Penerbangan perdana N219 dilakukan di bandara Husein Sastranegara, Bandung. N219 dengan nomor registrasi PK-XDT terbang dengan mulus, dan sukses melakukan serangkaian uji coba terbang, seperti kontrol kemudi dan navigasi.

Kapten penerbang Captain Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.

Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).

Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.

Dalam uji terbang tersebut, pesawat melintas dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Pesawat dipastikan terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.

Dalam uji terbang perdana ini, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.

Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh mendarat seusai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.

Selain itu, juga dipasang 150 sensor untuk merekam semua parameter penerbangan N219, mulai dari sensor temperatur hingga sensor stress.

Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan.

Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]

N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.

Captain Esther Gayatri Saleh tampak riang berpose disamping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). (Reska K Nistanto dan Putra Prima Perdana)

 Pesawat N219 Terbang Mulus 
Pesawat N-219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).Pesawat N-219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017). [KOMPAS.com/Putra Prima Perdana]

Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).

Pesawat karya anak bangsa tersebut lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, sekira pukul 09.15 WIB dan berputar-putar di langit Bandung dan mendarat sekitar pukul 10.00 WIB.

Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.

Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.

"Tes flight ini dilakukan setelah kita melakukan berbagai tes dan persiapan," kata Asisten Khusus Pengembangan Pesawat Terbang PT D Andi Alisjahbana di sela uji terbang, Rabu siang.

Andi menambahkan, dalam uji terbang tersebut, pesawat akan melintasi dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Dia memastikan pesawat terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.

"Pesawat terbang sekira 40 menit dengan rute ke arah barat dan berputar di sekitar Batujajar," ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, orang-orang yang berada di dalam pesawat telah diberikan bekal untuk meminimalisasi kemungkinan terburuk terjadi dalam uji terbang.

"Salah satunya kita persiapkan peralatan keselamatan, pilot memakai parasut," ungkapnya.

Selain itu, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.

"Dari situ bisa kelihatan apakah pesawatnya goyang atau tidak. Ada juga dipasang sensor temperatur, sensor stress, kalau tidak salah semuanya ada sekira 150-an sensor dan semuanya direkam," tuturnya.

  Kompas  

Selasa, 15 Agustus 2017

‘SS2 V7 Subsonic’ PT Pindad

Siap Diproduksi MassalSS2 V7 Subsonic ★

Salah satu produsen alat utama sistem pertahanan (Alutsista) Indonesia, PT Pindad turut memamerkan senjata laras panjang dan pistol terbarunya pada ajang Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 di Makassar, Sulawesi Selatan. Di antara beragam Alutsista yang dipamerkan, penampakan SS2 V7 Subsonic buatan tahun 2016 menjadi yang paling banyak menyita perhatian pengunjung.

SS2 V7 Subsonic didesain untuk operasi pengintaian. Senjata dengan kaliber khusus tersebut mampu melesatkan peluru yang nyaris tak terdengar saat keluar dari larasnya. SS2 V7 Subsonic ini akan menjadi Alutsista andalan TNI dan Polri. “Segera diproduksi massal dan tentunya TNI dan Polri sudah memesan sesuai dengan anggaran pertahanannya masing-masing,” ucap Kepala Departemen Korporat Komunikasi PT Pindad Komarudin.

Senjata laras panjang lain yang dipamerkan yakni SPR 3 kaliber 62 mm, SS2 V1 Heavy Barrel. PT Pindad juga membawa empat varian pistol yang sudah dipasarakan di berbagai negara dan satuan elite TNI dan Polri. Yakni pisto G2 Elite, G2 Combat, G2 Premium dan MAG4. “Tapi yang menerapkan teknologi paling baru dari hasil riset inovasi kami adalah SS2 V7 Subsonic,” katanya.

Ia menuturkan, riset untuk membuat SS2 V7 Subsonic membutuhkan waktu lebih dari setahun. Proses pengembangan teknologinya cukup rumit karena PT Pindad belum memiliki 100 persen raw material untuk membuat senjata tersebut. Namun, dengan keyakinan dan itikad yang kuat, SS2 V7 Subsonic tetap dibuat dan hasilnya memuaskan. “Proses pengembangan teknologinya memperitimbangkan banyak hal. Terutama soal ketersediaan bahan baku. Perlu amunisi dan laras yang khusus agar saat ditembakan tak terdeteksi musuh,” ujarnya.

SS2 V7 Subsonic berhasil melewati tahapan-tahapan persyaratan untuk diklaim sebagai produk asli dalam negeri. Komarudin menyatakan, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) material senjata tersebut mencapai 62 persen, atau dua kali lipat di atas batas minimal yang ditetapkan Kementerian Perindiustrian. TKDN dari Kemenperin untuk sekitar 30 persen. “Semua senjata yang dipamerkan pada Hakteknas sekarang TKDN nya mencapai 50-62 persen,” ujarnya.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/22/Pindad_SS3_with_Silencer.jpgSS3 produksi Pindad [Ijal Lubis]

Sebetulnya, PT Pindad juga memiliki senjata canggih lain, yakni SS3 yang sudah mendapat pengakuan dunia. Namun, SS3 urung dipamerkan karena keterbatasan bagasi dan jarak. Komarudin menuturkan, SS3 adalah jenis senapan serbu berhasil meraih beragam pengharagaan internasional. “Kami juga membawa tank Badak yang didesain khusus untuk pertempuran terbuka,” ujarnya.

Lokasi pameran Hakteknas ke-22 tahun ini dipusatkan di Gedung Ritech Expo Center of Indonesia, Makassar, 10-13 Agustus 2017. Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla meresmikan perehelatan tahunan yang digelar Kementeritan Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini dengan menekan tombol pelucur roket air. Selain PT Pindad, beberapa produsen teknologi lainnya seperti PT Dirgantara Indonesia juga turut memamerkan pesawat kebanggaan dalam negeri seperti N250.

Kalau dari sisi harga, Alutsista kami sangat kompetitif, bahkan jauh lebih murah ketimbang senjata buatan luar. Pindad harus terus mengembangkan produk yang mengikuti tren industri pertahanan. Juga mempertimbangkan kompetitor kami di luar negeri. Kami akan lebih maju jika diimbangi dengan pengembangan industri pendukung. Misalnya, industri yang memproduksi raw materialnya. Pindadnya berkembang, sedangkan industri pendukung tidak berkembang juga akan susah,” ujar Komarudin.

  Pikiran Rakyat  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More